Rabu, 17 Mei 2017

SENJA,MASIHKAH DISANA?

  Nah,sekarang sudah mulai panas. Siang terik itu sudah mulai membiru dan panas. Awan yang biasanya biru dan diselimuti awan putih pelan-pelan berganti sayu ke warna merah jingga kuning cantik yang pilu. Disamping segala hal yang ada,disamping burung-burung pipit dan perahu kecil yang terus mendayung ingin berpulang kerumah,setelah seharian lelah mengarungi sungai itu,mencoba mencari jalan pulang dengan disuguhkan tampilan alam yang merah merekah. Ya,senja itu metamorfosa biru ke kuning,panas ke hangat,arogan ke sendu. Sendu? ya senja itu sendu. Sendu menurut ku. Aku yang selalu duduk termenung dimanapun disetiap ada kesempatan dan moment ketika senja itu tiba.

  Awal musim kemarau sudah mulai tiba. Bulan lalu musim hujan selalu datang disore hari. Membasahi rumput-rumput hijau ditaman dan aspal yang hitam. sama halnya dengan perasaan yang ada sekarang. Entah bagaimana semuanya berawal. Aku yang waktu itu masih sangat muda dan tidak mengenal sebegini kejinya efek perasaan yang harus aku sandang sekarang. Sebegini parahnya efek perasaan yang bisa kita bilang "cinta" menaungi dan menghantui pikiranku saat ini. Saat dimana musim hujan berganti menjadi musim kemarau. Saat dimana aku pikir aku tidak akan pernah merasa terambang seperti sekarang. Mari kita mulai.

  Aku ingat sekali kapan pertama kali aku berani memakai lipstick merah itu. Aku ingat sekali kapan aku mulai bisa mencicipi dunia malam dan aku juga ingat betul kapan aku mulai tidak mengenal diri sendiri dan aku yang telah kehilangan diriku. 14 febuari yang lalu tepat di hari ulang tahunku aku tertarik pada seorang lelaki yang rupawan. Dikalangan ku yang baru pada saat itu dia adalah yang paling terkenal. kalangan baru? ya. Umurku 19 tahun pada saat itu. Masa dimana keterpurukan terdalam dalam hidupku. Aku harus menjalani hidup sendiri. Bukan karena tidak ada orang tua. Orang tuaku masih lengkap hanya saja perasaan kami yang tidak bisa melengkapi satu sama lain hingga kami akhirnya harus bercerai berai. Aku adalah anak tunggal dan putri satu-satunya yang dimiliki orang tuaku. Keputusanku untuk lari dari rumah pastilah hal yang menyakitkan yang bisa kuberikan kepada orang tuaku. Tapi harus bagaimana lagi,meluruskan pohon yang kokoh adalah suatu hal yang mustahil. itulah gambaran yang bisa kuberikan tentang intro keluargaku. selebihnya? mungkin dilain cerita jika hati dan tangan sudah mulai singkron dan siap.

  kembali ke laki-laki yang punya pamor tinggi itu. Namanya andre. Sebulan setelah aku memutuskan untuk keluar dari kehidupan normalku,aku menjalani profesi sebagai penyanyi bar disalah satu kota diindonesia yang tidak bisa aku sebutkan dimana. Yang jelas aku sangat menikmati bahwa akhirnya aku bisa bebas dan menjadi apa yang aku mau yang bahwa kenyataannya itu adalah hal yang paling salah yang pernah aku nilai benar. Aku dituntut untuk bisa bersolek,memasang pemerah pipi,mengenal minuman yang sekarang jadi sahabat terbaikku. Aku mengenal andre 14 febuari itu ketika selesai session menyanyi pertama,partner ku mengenalkanku kepada andre yang nampak tertarik padaku. Akupun menggubrisnya dengan senang hati. Aku tertarik seketika setelah perkenalan pertama itu. Dia yang mulai mengajarkan hal-hal yang tudak pernah kurasakan sebelumnya. Hal-hal yang kuanggap tabu tetapi ada. Seminggu setelah perkenalan kami,kamipun sepakat untuk menjalani hubungan lebih dari teman. Ya,dia yang sekarang jadi kekasihku. Kekasih yang disetiap harinya selalu menemani dan membuatku kasmaran. Aku nyaman sekali bersamanya. Dia selalu mendukungku,menemaniku saat bekerja,mengajak jalan-jalan walaupun itu tengah malam hanya sekedar untuk mengusir kebosanan dan mencari kantuk belaka. 

  Tak terasa setahun bersama mengajarkan kami semuanya. Kami saling belajar satu sama lain. Mempelajari perangai masing-masing saling mengenal lebih dalam. Saling mengenal untuk jauh mendalami agar bisa lanjut kejenjang berikutnya. jenjang berikutnya? memang andre pernah menggunjing tentang bagaimana kalau kami menikah. Tapi aku yang waktu itu masih terpaut belia belum berani untuk mengambil langkah lebih jauh dan lebih dalam. Disamping itu ada sesuatu hal yang menjadi pemikiranku. Aku dan andre berbeda agama. Tapi perbedaan agama itu tidak kami indahkan. Kami masih saja tidak perduli dan tetap berpegang teguh sampai akhirnya sudah masuk ketahun ke3 kami berpacaran. 

  Mungkin bisa dikatakan ini kali pertama aku mau berkomitmen. Aku yang selama ini sebatang kara dan dia yang selalu memberikan segalanya. Disaat aku berkekurangan secara lahir dan batin andre datang. Andre memberikan dukungan moral dan material. Dukungan materi yang diberikan andre membuat andre merasa seolah-olah aku adalah kepemilikannya. Seperti layaknya tanah yang sertifikatnya dipegang teguh oleh tuannya. Andre yang dulu kukenal dan semakin kukenal semakin aku sayangi semakin pula aku takut. Aku yang takut kehilangan hatinya dan takut akan dirinya. Kenapa? memang terkadang kasih sayang itu bisa jadi suatu hal yang berlebihan,dan sesuatu yang berlebihan itu tidak pernah menjadi suatu hal yang baik. 

  Ditahun kedua kami berpacaran andre menikahi wanita lain yang seagama dengannya. Kemudian bagaimana bisa kami bertahan? biar aku ceritakan secara perlahan. Tahun pertama andre memang pernah melamarku dan aku menolaknya. Bukan menolak lebih kepada menunda. Tundaan yang sebenarnya memang harus. Namun ditahun kedua itu andre diharuskan menikah oleh orang tuanya. Aku terkejut ketika tau hal itu. Aku mengetahui hal itu setelah 2 bulan pernikahan andre dan pada saat istrinya mengandung 4 bulan. ya,andre menghamili perempuan itu,andre selingkuh dibelakangku. Itu suatu keterpurukan dalam bagiku dan termasuk masa sulit yang rumit. Rumit karena aku masih bisa mentoleransi semuanya. Aku tau aku yang menjadi korban,tapi ironisnya aku tetap menyayanginya sepenuh hati. Padahal apa yang aku cari? harta? tidak. Walaupun aku telah kehilangan diriku yang polos tapi aku sangat mengenal diriku yang bukan penggila harta. Kenyamanan dan rasa sayang yang berlebihan inilah yang membuat aku tetap bertahan walaupun ini perlahan menggerogoti hati dan sisi kemanusiaan yang ada. Aku yang awalnya menjadi utama dan hanya ada aku satu-satunya harus rela merasakan bahwa sekarang andre bukan lagi milikku sepenuhnya. Dia kepunyaan orang lain. Dia yang awalnya berjanji tidak akan membagi hati sekarang harus membagi hati dan raga. Entah kenapa aku yang harus merasa nampaknya aku yang bersalah. padahal aku yang utama. Aku yang menjalani semuanya dari awal dan aku yang selama ini bertahan disampingnya. 

  Aku mencoba untuk melapangkan dada. Berdamai dengan masa-masa indah dan keji itu. Aku memaafkan andre yang berlutut dihadapanku. Yang dia katakan adalah walaupun aku telah menikah tapi aku tidak mencintai wanita itu. Yang dia perlukan adalah aku. Dan akupun yang jatuh dalam perkataan manis itu mau menjadi bayangannya. Tentu istrinya tidak tau apa yang terjadi. Bahkan istrinya tidak tau bahwa aku ini ada. Istrinya tidak tau bahwa andre menjadi hubungan dengaku sbeelumnya walaupun pada faktanya yang jadi orang ke3 adalah dia. Kemudian bagaimana bisa aku tetap mau menjalani hubungan ini?

  Ingat perkataan ku tadi dimana sesuatu hal yang berlebihan tidak pernah menghasilkan hal yang baik? ya. Tidak hanya perasaanku yang berlebihan namun begitu jua dengan andre. Setelah kabar pernikahannya beredar dan sampai ditelingaku,aku berusaha untuk lepas dari andre walaupun hanya dia yang aku punya. Aku siap menanggung segalanya. Sakit hati dan juga penyesalan. Aku yakin aku bisa pulih dari keterpurukan walaupun memakan waktu. Tapi andre tidak ingin melepaskanku. Disitu kali pertama aku melihat sosok andre yang lain. Dia menghajarku habis-habisan karena aku ingin meninggalkannya. Dia marah karena kesalahannya. Dia marah karena ketidaksetiannya. Dia menghajarku sehingga mematahkan pergelangan tanganku dan membuatku pendarahan hebat dibagian pelipis. Aku yang terkejut dan syok hanya bisa pasrah. Lantas kalian pasti bertanya-tanya,kenapa sampai sekarang bertahan?memang terkadang hati ini sulit untuk dimengerti.

  Perkelahian hebat malam itu tidak pernah terlupakan. Bahkan masih membekas dihati dan badanku. Singkat cerita perjalanan kisah kami sudah 5 tahun. Anaknya berusia 2 tahun. Dan masih sampai sekarang istrinya tidak mengetahui hubungan kami. Dan selama 5 tahun itu pula aku tidak pernah mendengar kabar dari orang tuaku. Mereka sudah pindah menjalani hidup masing-masing. Aku? masih mengambang dan menjadi bagian hidup andre. Namun hanya sebagai bayangan. Semenjak perkelahian hebat itu,aku tidak lagi bekerja dibar. Demi menjaga privasi dan hubungan rumah tangga andre. Hubungan rumah tangga yang sebenarnya tidak adil untukku. Kenapa harus seperti padahal aku adalah tokoh utama. Tapi aku sudah tidak terlalu memusingkan hal itu lagi. Yang aku tau andre selalu menyayangiku dan dia juga lebih banyak menghabiskan waktu bersamaku. Namun tabiatnya yang ringan tangan kerap kali dia luapkan kepadaku jika dia mengalami kekesalan atau sedang setres. Dia tidak pernah begitu. Dia yang takut kehilanganku. Dia yang begitu terobsesi yang sama halnya denganku. Dia berjanji suatu saat dia akan meninggalkan wanita itu namun ketika anaknya beranjak dewasa. Dia juga berjanji akan ikut ke agamaku. Dia yang selalu menabur janji-janji manis. Dan hanya janji itu yang selalu kupegang. Aku bahagia bersamanya. Walau kadang aku merasa sakit hati ketika aku tau dia berbohong tentang hal-hal yang menyangkut istrinya. Kadang aku bingung harus bagaimana mengutarakan semuanya karena yang aku tau aku yang mau menjalani semua ini lantas kenapa aku tidak bisa menanggung dampaknya? harusnya aku tau namun tetap ada sangkalan dari dalam yang kadang membuatku semakin jatuh dan tidak mengenal diriku. 

  Aku merasa bahwa aku adalah sesosok boneka kesayangan. Aku seperti anjing kesayangan tuannya. Aku bukan milikku. Andre yang awalnya kukenal tidak akan memperlakukan seperti ini nyatanya dia bertindak jauh. Tidak puas dengan menahanku selama 5 tahun seiring perjalanan cinta kami diapun banyak melukis bekas-bekas perkelahian hebat dibadanku.Dia yang menahanku atau aku yang tidak bisa lari darinya? sepertinya kami sama-sama saling menahan satu sama lain sehingga saling membuat luka yang dalam satu sama lain.Aku tahu setiap kali sehabis memukulku andre selalu mengobati luka-luka ditubuhku. Terkadangpun dia menangis menyesal dan tak luput juga dia melukai dirinya karena amarah dan penyesalan melihat ukiran-ukiran dan baretan luka yang dibuatnya dibadanku. 

  3 tahun belakangan memang tidak seindah 2 tahun awal kami berpacaran. Dan setahun belakangan aku mulai sering mengunjungi psikiater. Aku yang terlampau setres dan jarang bisa tidur mulai sakit-sakitan diusia yang muda. Sudahkan aku menyebutkan usia andre diawal kisah tadi? oh ya ketika awal kami berhubungan umurku 19 tahun dan umur andre 27 tahun. Sekarang lelaki itu 32 tahun dan pendewasaan dirinya dalam menjalin hubungan belum matang sama sekali. Hati dan sikapnya yang kadang berubah. Tatapan matanya yang sewaktu-waktu bisa menjadi tatapan asing membuatku meragu dan mulai mencoba melepaskan 5 tahun kesia-siaan yang kujalani.

  Aku yang menyadari bahwa tubuh ini sudah mulai tidak berdaya dan aku pula yang mulai mengalami penurunan produktivitas dalam menjalani hidup serta berkurangnya semangat hidupku yang sekarang,diusia 24 tahun ini aku putuskan untuk mendonorkan salah satu ginjalku. Aku merasa bahwa kesakitan 3 tahun terakhir buah dari apa yang aku lakukan kepada kedua orang tuaku. Entah aku yang membuang mereka atau mereka yang membuangku nampaknya kami sama-sama saling membuang.

   Niatku untuk mendonorkan salah satu ginjalku tidak diketahui oleh andre. Waktu itu aku meminta ijin sebulan untuk liburan ke luar negeri kepada andre. Alasanku aku perlu waktu sendiri ditempat yang baru karena perasaan setres dan tertekan yang aku alami. Diapun tidak keberatan dan tetap mensupport dana selama aku diluar. 

  Negara yang kupilih adalah jepang. Bukan liburan tapi untuk mendonorkan ginjalku. Aku merasa bahwa hidupku sia-sia. Berbagai macam konseling keagamaan dan psikiater telah kujalani tapi aku tidak menemukan titik terang agar aku bisa hidup normal. Bisa lepas dari obsesi dan mengikhlaskan semuanya. 

  Aku pikir setidaknya ada hal manis yang bisa kulakukan. Ada hal mulia yang bisa kulakukan setelah hal-hal keji yang aku lakukan di 5 tahun belakangan. Aku tinggal dijepang sekitar 2 bulan. Awalnya andre ingin menyusul namun aku melarangnya. Dia sempat marah namun dia mencoba untuk mengerti. Aku perlu pulih setelah operasi.

  Sebaliknya aku keindonesia,aku langsung bertemu dengan andre. Andre menyadari bahwa ada yang berubah padaku. Aku yang semakin kelihatan tidak ada niat dan semangat untuk menjalani hari-hari lainnya. Tapi disamping kesakitan yang diberikan andre dan segala tabiat buruknya,dia masih menyisakan sisi andre yang membuatku mampu bertahan setegar 5 tahun ini. Kenyamanan memang mengalahkan segalanya. 

   3 bulan setelah operasi,aku mulai merasakan dampaknya. Andre yang melihatku sakit-sakitan tidak pernah lagi main tangan terhadapku. Dia menjadi lebih perhatian dari sebelumnya  Entahlah kasian atau perhatian. Yang jelas aku semakin dibuatnya nyaman dalam keterpurukan. Terhitung setelah sekembalinya aku dari jepang,dia tidak pernah pulang kerumah. Mengabaikan anak dan istrinya yang membuatku amat bersalah namun disatu sisi merasa bahagia. Bagaimana? sudah seberapa jijik pembaca mau menoreh ke sisi keegoisanku? yah bagaimanapun aku tetap merasa semuanya bukan salahku.

   kesehatanku yang terus menurun membuatku semakin tidak berdaya. Dan akhirnya 8 tahun sudah aku dan andre saling berbagi kedukaan. Dia tidak pernah lagi memukuliku. Andre berusaha meyakiniku bahwa dia mampu menjalani dua kehidupan dan bertanggung jawab penuh atas semuanya serta mau menerima resikonya walaupun dia harus dibuang kedua orang tuanya. Akhirnya pula secara diam-diam dia pindah agama dan menikahiku.

  segala sesuatunya dia tata rapi. Setelah 8 tahun akhirnya aku sah menjadi istri andre. Namun sah pula aku menjadi istri simpanan sekaligus bayangan dalam hidupnya. Aku yang siap setia menjadi bayangan dan pundak andre. Aku yang selalu bangga padanya. Bangga bahwa dia adalah lelaki yang tidak pernah mau melepaskanku selama 8 tahun ini.

  Awalnya aku yang tegar menghadapi semuanya dari awal bisa menjadi satu dalam pernikahan yang tidak lazim. Hanya berbekal kesetiaan dan kenyamanan tetap berdoa bahwa suatu saat segala hal yang membuat ku selama ini tertekan akan segera berlalu. Aku pikir dengan menjalani semua ini dengan penuh kesakitan aku bisa selalu dikuatkan walau penuh dengan rasa tertekan. Aku selalu berdoa agar suatu saat walaupun semuanya harus berakhir sedih setidaknya aku masih dikuatkan sampai akhir. Sampai pada akhirnya semuanya benar-benar runyam. Aku yang awalnya berpikir bahwa andre adalah segalanya kini perlahan mulai berubah sedikit demi sedikit. Apalagi kala itu dia menuntut bahwa dia ingin mempunyai keturunan denganku. Akupun mengiyakan karena memang kami sudah menjadi sepasang suami istri yang sah. Namun entah kenapa setelah 2 tahun sah menjadi istri andre aku tak kunjung-kunjung mempunyai keturunan. Apalagi sekarang kondisi fisik ku semakin menurun. Aku semakin khawatir. Disamping kondisiku yang kian hari kian menurun,begitu pula dengan sikap andre. Awalnya dia yang berubah menjadi andre yang manis sekarang mulai berubah lagi menjadi andre yang buas. Dia mencaci makiku bahkan terkadang dia mulai main tangan lagi pada badan yang sudah sangat rapuh ini. Aku tidak habis pikir. Kenapa semua lelaki nampaknya hobby menyakiti wanita. 

   Aku akhirnya memutuskan untuk berkonsultasi kedokter mengenai perihal kenapa aku tak kunjung hamil. Betapa terkejutnya aku ketika aku mengetahui bahwa aku ternyata mandul. Hancur rasanya. Aku merasa bukan seorang wanita yang utuh. Apa yang terjadi sampai semuanya sejauh ini. Aku pikir satu ginjalku bisa menebus seperempat dari dosaku. Ternyata tuhan berkehendak lain. Akupun pulang dengan keadaan goyah. Entah rasanya aku tidak lagi merasakan bahwa aku tengah memijakan kaki ditanah. Aku tidak tahu lagi bagaimana aku harus mempertahankan hubungan hinaku dengan andre. 

   Sesampainya dirumah,kuliat andre dengan santai menyeruput kopi hitamnya sambil duduk didepan teras asik membaca koran hari ini. Dia bersikap dingin. Dingin sekali sampai tidak tersentuh atau bahkan tidak tersentuh sama sekali melihatku. Aku yakin dia hanya kasihan padaku. 

    Perlahan aku mencoba untuk membuka kalimat. Berat rasanya lidah ini bergoyang. "mas,sepertinya ada sesuatu hal yang penting yang harus aku bicarakan denganmu", dia hanya sedikit menoleh sambil terus membaca "tentang apa?" jawabnya ketus. Aku pun tanpa berpikir panjang hanya mengatakan apa yang harus aku katakan "sebelumnya aku meminta maaf padamu. Tentang segala hal yang pernah kita lalui,baik maupun buruk Tentang semua pengorbananmu dan pengorbananku menghadappi segala hal yang luar biasa selama 10 tahun perjalanan kita hingga akhirnya kita bisa sampai disini. Maafkan aku yang dari awal bersikekeh untuk tetap menahanmu yang seharusnya sudah kulepas sejak awal. Tapi mulai hari ini dan detik ini aku siap untuk pergi. Aku bukan perempuan yang sempurna. Aku tidak bisa memberikan keturunan seperti dia. Nampaknya sudah cukup untuk mu meluangkan waktu-waktu berhargamu yang harusnya kau luangkan untuknya. Aku yakin ini hukuman untuk mu dan terlebih untukku. Aku harap kamu bisa menerima kenyataan dan keputusanku kali ini." Sejenak ada awan hitam yang sangat kelam terpampang nyata diwajahnya. Emosi,gelisah,gundah,kasihan dan semuanya sampai aku bingung mengartikan mimik wajahnya. "aku sangat mencintaimu sampai aku lupa bahwa kamu juga berhak akan dirimu. Aku sangat mencintaimu sampai aku lupa bahwa aku hanyut dalam obsesi. Aku terlalu obsesi. Aku tidak pernah sadar dan selama ini selalu dibutakan akan hal-hal yang baik dan indah yang aku dapatkan darimu yang tidak kudapati di dirinya. Aku minta maaf atas perlakuan burukku selama ini. Aku minta maaf atas semua tangismu. Aku tidak tahu harus bagaimana. Mungkin kau benar kita harus bisa lebih berlapang dada dan saling merelakan." Aku yang awalnya mengira akan tegar mendengar ucapannya itu serasa runtuh duniaku. Aku yang siap untuk ditinggalkan tapi kenapa rasanya ada petir yang menyambar ketika dia yang 10 tahun mampu menahan semuanya terlebih menahanku dengan segala caranya,tetapi hari ini dia dengan lantang dan berani untuk bisa melepaskan aku. 

   Dibawanya semua barangnya. Aku hanya terdiam disudut rumah sambil menatap kosong kearah televisi. Aku hanya menyaksikan kesibukannya yang bersiap pergi untuk meninggalkanku. Tak sampai berapa lamapun dia pergi. Pergi tanpa menyisakan apapun. Pergi menjadi sosok lelaki yang tidak pernah aku harapkan untuk menjadi asing. Sejenak aku terdiam. Merenung. Mengingat betapa angkuhnya aku. Betapa cerobohnya aku dan sungguh lengkap dengan bodohku.

   Aku hanya menangis. Aku sakit. Jiwaku sakit. Semuanya sakit. Aku sekarat. Aku mulai tersenyum. Memejamkan mataku. Mengingat kali pertama aku berjalan. Mengingat kenangan manis bersama kedua orang tuaku yang sangat kucintai. Tak luput dengan air mata minta ampun dengan segala kedurhakaan selama ini. Aku coba lagi mengingat hal-hal manis yang pernah aku lakukan dengan andre. Ice cream pertama kami. Pelukannya. Tangannya. Cara dia berkedip dan semuanya jelas. Manis sekali. untuk sekejap aku bisa bahagia. Senang rasanya. Sembari badanku yang kurasakan sangat dingin. Menggigil dan dingin yang amat menusuk. Bahkan lebih dingin dari musim dingin dijepang. Sampai rasanya ada yang meremas jantungku hingga aku sulit untuk bernapas. Tapi disamping semuanya aku senang bahwa aku bisa mengingat lagi hal manis dalam hidupku. Samar terdengar aku mendengar suara pintu depan terbuka tanda ada orang yang masuk. "pasti andreku..." batinku berucap. Tapi sejenak aku teringat bahwa aku barusan menenggak pil dalam jumlah ratusan. Aku terlalu hanyut dalam kenangan manis. Setidaknya tuhan mengijinkan aku bernostalgia dan melihat andre terakhir kali. Aku tau dia khawatir. Dia langsung menghampiriku,memeluk dan menciumku. Aku tau dia akan kembali karena cinta tau dimana dia membenamkan bibitnya. Sampai pada saat kerlingan mata terakhirku aku hanya membatin "kau terlambat sayangku...sampai ketemu dilain kesempatan,aku mencintaimu....."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar