Selasa, 11 Juli 2017

Pulau Kapuk

   Ranjang itu cantik sekali. Berwarna putih bersih dengan kasur kapuk yang empuk. Nyaman. Lengkap pula dengan bantal guling serta selimut.

  Setiap hari mereka selalu bersama tolong menolong dan selalu berkesinambungan untuk membuat sesosok itu tidur nyenyak. Tidur dengan perasaan aman. Ketika hari mulai dingin selimut itu mulai memposisikan diri dan bersiap untuk dipakai. Menanti dengan baik sampai yang empunya menarik perlahan untuk menutupi tubuh yang tertiup angin sepoi2.
  
   Tak luput pula peran yang lainnya. Bantal yang selalu jadi sandaran kepala sosok itu. Tumpuan ketika kepala berat itu mulai lelah menengadah keatas menatap kosong kearah jendela. Dengan setia menjadi tempat bantalan yang selalu merangkul kepalanya.
  
   Ada pula guling. Guling itu adalah hal wajib yang harus disertakan bagi yang empunya untuk menjalankan ritual tidurnya. Guling itu selalu siap sedia untuk dipeluk. Dia suka itu. Rasanya nyaman. Nyaman untuk membuat irang aman dan merasa nyaman. Dipeluk. Ya. Dipeluk.

   Suatu ketika bantal mengeluh. Dia acap kali kedinginan beberapa malam ini. sarungnya selalu saja basah merembes sampai kedalam. Membuatnya basab dan lembab sehingga bantal itupun risih. Risih akan dirinya. Sang empunya terlalu rajin menempatkan air mata dibantal itu. Sampai akhirnya bantal itu terbiasa dengan basah dan harus mengeluh serta menggerutu sendiri.

    Dan beberapa hari kemudian setelah kasus bantal,guling mulai gelisah. Sang empunya tak kunjung memeluknya lagi. Tak memberinya kenyamanan seperti yang dulu-dulu. Apalgi sang empunya sering salah kaprah dan menggunakan guling itu sebagai bantal. Dia kasihan kepada bantal. Dia tahu bahwa bantal cemburu dan sempat mereka cekcok sehingga bantal dan guling itu jarang ada dikasur yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Apalagi sosok empunya sering dilantai membawa guling. Guling sakit hati sebenarnya. Tak luput sang empunya kadang memukul atau bahkan melempar guling untuk meluapkan amarahnya sembari menangis tersedu-sedu setiap malam.
 
    Setelah 2 kejadian malang yang menimpa bantal dan guling,selimut juga tak luput dari basib malang. Selimut tidak pernah lagi disentuh. Bahkan terkesan terlupakan. Selimut tersembunyi terjatuh dan sekarang berdiam sendiri dibawah ranjang. Tidak ada satupun  yang menolongnya atau bahkan menengoknya. Dia hanya berdoa agar suatu saat ada yang memungutnya dan mencuci bersih serta menggunakannya lagi. Atau setidaknya ada  yang mau menyimpanya dengan rapi didalam lemari. Setidaknya tidak dibawah kolong ranjang.

   Suasana mereka di dalam kamar segiempat itu sangat mencekam. Semuanya penuh derita. Mereka bertanya-tanya kenapa gerangan yang terjadi pada sang empunya. Mereka hanya berharap agar sosok yang memiliki mereka akan kembali menjadi sosok yang mereka dambakan dulu. Tidur bersama dalam keadaan nyaman dan menyisakan senyum sebelum keberangkatan kepulau kapuk.
  

    Mungkin tidak ada yang tahu kapan berakhir penderitaan bantal,guling dan selimut. Kita doakan saja agar sang empunya cepat sembuh. Dan sesungguhnyapun kalian,ya...kalian yang selalu melakukan hal menyakitkan berulang-ulang,selalu menjadikan hal itu sebagai hobi,cobalah berpikir sedikit bahwa tidak hanya sosok itu yang tersakiti. Bahkan ruangan serta oksigen yang dia hirupun ikut bermasalah. Semua bermasalah dan tidak baik. Raga itu berada dilingkungan tidak baik. Kamu menyakiti segala yang ia punya dan apa yang berhubungan dengannya. Cobalah sedikit untuk berbaik hati dan tidak menyakiti atau tidak usah mengenal sama sekali daripada hanya meninggalkan kesakitan dan penderitaan yang tidak terhingga.



noted:
untuk semua wanita halu yang kerap menangis sebelum tidur,menangislah. Jangan lupa untuk bangkit esoknya. Kasihanilah diri kalian sendiri karena dia yang menyakiti tidak akan pernah berpikir untuk membagi kasihannya kepada sosok kalian. Pedulilah pada apa yang harus kamu perdulikan. Anggaplah bantal,guling serta selimut yang sering kau gunakan adalah temanmu sehingga kau tau jika kau terluka dan terpuruk begitu pula mereka. Karena orang yang terluka akan cenderung melukai pula baik sengaja maupun tidak disengaja. maka dari itu SEMBUHLAH ☺

Senin, 10 Juli 2017

SEDIKIT...

   pernah tidak waktu itu kamu berpikir untuk berhenti dimana semua ini belum dimulai. Misalnya waktu kita berpapasan dan belum ada maksud satu sama lain antara pandanganku dan pandanganmu.
  kalau saja sedikit kita undur hari dimana aku bertemu denganmu,apa yang akan kamu kenakan? masihkah kemeja itu atau hanya kaos yang tidak berarti?
  kalau saja sedikit bisa kuulangi,aku yakin aku tidak akan pernah mau ke cafe itu. Aku tidak akan disana. Tidak. Aku bahkan berharap tidak pernah tau cafe itu.
  kalau saja sedikit aku bisa mengenang bahwa diwaktu itu,tepatnya malam itu,tepatnya hari itu dimana hari aku mengenang ulang tahunku,bahwa aku yang sangat terpuruk pasca sakit hati yang hebat dan tiba-tiba aku kehilangan arah,mungkin aku akan memilih untuk berdiam sementara,mungkin seminggu diam disudut kamar menata dari awal bukan keluar untuk mencairkan isak tangis dan membekukan hati yang lebur.
  kalau saja sedikit pada hari itu kamu tidak menanyakan perihal apapun tentangku sedikitpun bahkan secuil tentang diriku,kita tidak akan berada diujung jurang seperti sekarang.
  kalau saja sedikit kamu bisa menoleh betapapun dengan semua kekurangan dan kelebihan tidak lebih dan kurang yang kucari hanyalah pundak. Pundak yang lapang dan empuk dimana bisa bersandar dan menangis sepuasnya. perempuan memang seperti itu. Selalu berkaitan dengan air mata. Itulah kenapa pundakmu begitu berharga dan pundak itu bagaikan gunung yang tinggi dengan kadar oksigen yang rendah. Aku mencoba dengan gigih mendaki gunung itu dengan tertatih serta nyaris kehabisan napas. Beruntung masih tuhan berikan kesempatan walau pada dasarnya kesempatan itupun sangat sulit untuk dijalani. Setidaknya sekarang. Seperti saat ini.
   kalau saja sedikit bisa kamu tengok seberapa sakit dan jatuhnya aku,dan seberapa teganya kamu masih sampai tidak menyadari apa yang terjadi. Berkasih ria,berbagi tawa serta duka tapi tetap kau jadi sumber dari segala lara. Pernah kala itu aku berpikir untuk menyudahi segalanya pergi entah kemana mencari sosok gadis 5 tahun yabg lalu,yang masih penuh dengan gairah hidup. Tapi lagi-lagi mata itu menjatuhkan ku dalam gejolak yabg sebenarnya tidak boleh kuselami lebih dalam dan dalam lagi.
  kalau saja sedikit kamu bisa bertukar tempat denganku,merasakan bagaimana rasanya hanya menjadi sesosok bayangan dalam keseharianmu,tetap teguh dengan pendirian dan selalu oenuh rasa curiga serta takut kehilangan aku yakin kamu tidak akan lama bisa bernapas karena percayalah itulah yang kurasakan sekarang. Aku kesulitan bernapas. Sangat sulit.
  Tapi satu hal yang perlu kamu ketahui. Sesulit apapun napas ini berhembus,setinggi apapun gunung yang harus kudaki,aku percaya masih ada sosok kamu didalam sana yang menggunakan hati dan mengkesampingkan otak hanya untuk membalas semua kesakitanku dan kembali menjadi obat lagi sama seperti yang kau lakukan kala itu,aku yakin dan ini pasti sedikit lagi.

trimakasih untuk lelaki yang tak pernah berhenti mencintai namun tak pernah lelah menyakiti.